EVALUASI
PEMBELAJARAN EKONOMI
“ Konsep Dasar Asesmen Alternatif ”
KATA PENGANTAR
Puji
syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat,
karunia, taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan karya tulis tentang “ Evaliasi
Pembelajaran Ekonomi ” dengan topik “ Konsep Dasar Asesmen Alternatif ”.
Kami mengucapkan
terimakasih kepada seluruh pihak yang ikut dalam kesuksesan hingga
terselesaikannya makalah ini. Dan
kami
juga berharap karya tulis ini dapat
berguna dalam rangka menambah wawasan, dan kami
mengharapkan usulan serta kritik demi perbaikan karya tulis yang
telah kami
buat sebagai acuan untuk perbaikan di masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang
sempurna tanpa saran yang membangun.
Dan semoga karya tulis sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun
yang membacanya. Sekiranya laporan yang telah disusun ini dapat berguna
bagi kami sendiri maupun orang yang membacanya.
DAFTAR ISI
HALAMAN
JUDUL
KATA
PENGANTAR
DAFTAR
ISI
BAB
I PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
B. RUMUSAN MASALAH
C. TUJUAN PENULISAN
BAB
II PEMBAHASAN
A.
ASESMEN
ALTRNATIF
1. ASESMEN
2. ASESMEN ALTERNATIF
3. KONSEP DASAR ASESMEN ALTERNATIF
4. LANDASAN PSIKOLOGIS
5. KEUNGGULAN DAN KELEMAHAN ASESMEN
B.
BENTUK
ASESMEN KINERJA
1.
TUGAS
2.
KRITERIA
PENILAIAN (RUBRIK)
C. ASESMEN PORTOFOLIO
1.
PENGERTIAN
2.
TUJUAN
3.
PERENCANAAN
4.
PELAKSANAAN
5.
PENGUMPULAN
6.
TAHAP
PENILAIAN PORTOFOLIO
D. RANAH AFEKTIF
1. MELIPUTI KONSEP DASAR
2.
TINGKATAN
RANAH AFEKTIF
3. KARAKTERISTIK RANAH AFEKTIF
4. BEBERAPA CARA PENILAIAN RANAH AFEKTIF
5. SKALA INSTRUMEN PENILAIAN AFEKTIF
6.
LANGKAH-LANGKAH
PENGEMBANGAN AFEKTIF
DAFTAR
PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A.
LATAR BELAKANG
Pembelajaran atau Proses
Belajar Mengajarmerupakan suatuproses
interelasi dan interaksi peserta
didik dan guru
dengan berbagai komponen
(tujuan, isi/materi, metode,
media, dan penilaian/evaluasi) untuk
mencapai tujuan (Hamalik,
2004: 77, Wina Sanjaya,
2009: 57). Komponen-komponen tersebut
merupakan suatu kesatuan yang tidak terpisahkan sehingga
membentuk suatu sistem pembelajaran. Komponen terakhir dalam
sistem pembelajaran adalah
penilaianatau asesmen. Proses penilaian (asesmen) pada hakikatnya
merupakan kegiatan untuk
mengetahui sejauh mana tingkat
keberhasilan belajar yang
telah dicapai siswa
setelah berlangsungnya pembelajaran.
Melalui penilaian dapat diperoleh informasi tentang cara Asesmen
dalam pembelajaran adalah suatu proses atau upaya untuk memperoleh sejumlah
infromasi mengenai perkembangan siswa selama kegiatan pembelajaran sebagai
bahan dalam pegembalian keputusan oleh guru untuk mengetahui dan memperbaiki
proses maupun hasil belajar siswa. Penggunaan asesmen alternatif dalam
penilaian hasil belajar siswa muncul pada tahun 1980-an, dalam konteks
pendidikan, pelaksanaan asesmen di sekolah merupakan bagian dari proses
pembelajaran yakni refleksi pemahaman terhadap perkembangan atau kemajuan siswa
secara individual.
Zainul (2008:33) mengungkapkan “ada kesenjangan yang
besar antara asesmen yang dilakukan oleh guru di dalam kelas dengan asesmen
dilakukan secara nasional atau dalam suatu daerah otonom tetentu”. Dalam hal
ini, asesmen yang dilakukan oleh guru lebih terfokus pada pencapaian proses
belajar siswa selama di sekolah, sedangkan asesmen yang dilaksanakan secara
nasional lebih tertuju pada pencapaian prestasi belajar siswa atau hasil
belajar siswa selama menempuh pendidikan. Linson & Tighe (Ronis, 2011:22) pun
mengungkapkan “asesmen berfokus pada pengumpulan informasi mengenai pencapaian
prestasi siswa yang dapat digunakan untuk memnuat keputusan pengajaran”.
B.
RUMUSAN MASALAH
1.
apa yang dimaksud dengan konsep dasar asesmen alternatif ?
2.
apa saja yang meliputi konsep dasar asesmen alternatif ?
3.
apa yang dimaksud dengan asesmen portofolio ?
4.
apa saja yang meliputi asesmen portofolio ?
5.
apa yang dimaksud dengan ranah afektif ?
6.
apa saja yang meliputi ranah afektif ?
C. TUJUAN PENULISAN
1. mengetahui apa yang dimaksud dari konsep dasar asesmen
alternatif
2. mengetahui isi yang meliput konsep dasar asesmen
alternatif
3. mengetahui apa yang dimaksud dari asesmen portofolio
4. mengetahui isi yang meliputi asesmen portofoio
5. mengetahui apa yang dimaksud dari ranah afektif
6. mengetahui isi yang meliputi ranah afektif
BAB II
PEMBAHASAN
A.
ASESMEN ALTERNATIF
1. ASESMEN
Adalah
upaya untuk mendapatkan data/informasi dari proses dan hasil pembelajaran untuk
mengetahui seberapa baik kinerja mahasiswa, kelas/mata kuliah, atau program
studi dibandingkan terhadap tujuan/kriteria/capaian pembelajaran tertentu.
Setelah diperoleh hasil asesmen maka dilakukan proses penilaian.
Ada pula pengertian asesmen menurut
beberapa ahli :
·
Hargrove dan Poteet
(1984)
Pengertian assessment menurut Hargrove dan
Poteet, Assessment is the process of gathering information, using appropriate
tools and technique. Dengan arti penilaian adalah proses mengumpulkan
informasi, dengan menggunakan alat dan teknik yang layak.
·
Palomba dan Banta (1999)
Pengertian assessment menurut Palomba dan
Banta adalah Assessment is the systematic collection, review, and use of
information about educational programs undertaken for the purpose of improving
student learning and development. Dengan arti Penilaian adalah pengumpulan,
rivew, dan penggunaan informasi secara sistematik tentang program pendidikan
dengan tujuan meningkatkan belajar dan perkembangan siswa.
2.
ASESMEN ALTERNATIF
Asesmen
alternatif diartikan sebagai pemanfaatan pendekatan non-tradisional untuk
mengakses kinerja atau hasil belajar peserta didik. Adapun yang dimaksud dengan
asesmen alternatif (alternative assessment) adalah segala jenis bentuk asesmen
diluar asesmen konvensional (selected respon test dan paper-pencil test) yang
lebih autentik dan signifikan mengungkap secara langsung proses dan hasil
belajar siswa.
Ada
pula pengertian asesmen alternatif menurut beberapa ahli :
·
Herman (1997) memberikan semboyan
khusus bagi asesmen alternatif dengan ungkapan "What You Get is What You
Assess" (WYGWYA). Dalam beberapa literatur, asesmen alternatif ini
kadang-kadang disebut juga asesmen autentik (authentic assessment), asesmen
portofolio (portfolio assessment) atau asesmen kinerja (performance
assessment).
·
Grant P. Wiggins (1998)
membedakan antara asesmen tradisional (tes) dengan asesmen alternatif sebagai
berikut :
|
Asesmen Tradisional (tes) |
Asesmen Alternatif |
|
1. Penilaian dilakukan untuk menilai kemampuan siswa
dalam memberikan jawaban yang benar. 2. Tes yang diberikan tidak berhubungan dengan realitas
kehidupan siswa. 3. Tes terpisah dari pembelajaran yang dilakukan siswa. 4. Dapat di skor dengan reliabilitas tinggi. 5. Hasil tes diberikan dalam bentuk skor. |
1. Penilaian dilakukan untuk menilai kualitas produk
dan unjuk kerja siswa. 2. Tugas yang diberikan berhubungan dengan realitas
kehidupan siswa. 3. Ada integrasi antara pengetahuan dengan kinerja atau
produk yang dihasilkan. 4. Sulit diskor dengan reliabilitas tinggi. 5. Hasil asesmen alternatif diberikan dengan bukti
kinerja. |
3.
KONSEP DASAR ASESMEN ALTERNATIF
Dalam
pendidikan dikenal dua pengertian tentang penilaian yaitu penilaian dalam arti
asesmen dan penilaian dalam arti evaluasi. Penilaian dalam arti asesmen
merupakan kegiatan untuk memperoleh informasi tentang pencapaian dan kemajuan
belajar siswa, sedangkan penilaian dalam arti evaluasi merupakan kegiatan yang
dirancang untuk mengukur ke efektifan sistem pendidikan secara keseluruhan.
Pengertian penilaian yang digunakan adalah penilaian dalam arti asesmen.
Menurut Hanna (1993) : “ Assessment is the
process of collecting, interpreting, and synthesizing information to aid in
decision making. Assessment synonymous with meansurement plisobservation. It
concerns drawing inferences from these data sources. The primary purpose of
assessment is to increase student’s learning and development rather than simply
to grade or rank student performance (Morgan & O.Reilly,1999)”. jadi
asesmen merupakan kegiatan untuk mengumpulkan informasi hasil belajar siswa
yang diperoleh dari berbagai jenis tagihan dan mengolah informasi tersebut
untuk menilai hasil belajar dan perkembangan belajar siswa.
Ada beberapa istilah yang berkaitan dengan
asesmen, yaitu :
·
Asesmen Tradisional
Mengacu
pada tes tertulis (paper and pencil test). Asesmen tradisional hanya mengukur
hasil belajar siswa dengan menggunakan satu jenis alat ukur yaitu tes tertulis.
padahal anda telah mengetahui bahwa tes tertulis mempunyai kelemahan antara
lain hanya mampu mengukur aspek kognitif dan keterampilan sederhana, sebagian
kecil dari hasil belajar siswa, dan tes seringkali menimbulkan kecemasan.
·
Performance Assessment
(Asesmen Kinerja)
Merupakan
asesmen yang menghendaki siswa untuk mendemonstrasikan kemampuannya baik
pengetahuan atau keterampilan dalam bentuk kinerja nyata yang ditunjukkan an
penyelesaian suatu tugas, bukan hanya menjawab atau memilih jawaban yang sudah tersedia.
asesmen kinerja menilai hasil belajar siswa dan proses belajarnya.
·
Authentic Assessment
Engages
students in applying knowledge and skills in the same way they are used in the
" real world " outside school (authentic assessment merupakan asesmen
yang menuntut siswa maupun menerapkan pengetahuan dan keterampilannya dalam
kehidupan nyata di luar sekolah). Tujuan dari authentic assessment adalah untuk
mengumpulkan bukti-bukti apakah siswa sudah dapat menggunakan pengetahuan dan
keterampilannya secara efektif dalam kehidupan nyata dan dapat memberikan
kritik terhadap upaya yang telah ia lakukan. dari pengertian tersebut tampak
bahwa otentik asesmen didasarkan pada performance assessment yang menuntut
siswa mampu untuk kerja. Contoh: di sekolah siswa diajarkan konsep penjumlahan
2 + 3 = 5. Konsep tersebut adalah abstrak. Konsep tersebut tidak ditemukan
dalam kehidupan nyata anak. Dalam kehidupan nyata anak, yang ada adalah 2 bola
+ 3 bola = 5 bola. Untuk itu dalam mengajarkan konsep penjumlahan, ajarlah siswa
dengan menggunakan contoh-contoh yang ada dalam kehidupan nyata. Untuk
mengetahui bagaimana anak harus bersikap sopan kepada orang yang lebih tua
harus dilatih bagaimana arah hasilnya terhadap orang tua pada situasi yang
sebenarnya. Amatilah bagaimana sikap siswa saat berinteraksi dengan orang tua
yang ada di sekitar sekolah. misalnya bagaimana sikap anak kepada pesuruh
sekolah, penjual kue dan minuman di sekitar sekolah dan sebagainya.
·
Portfolio Assessment
(Asesmen Portofolio)
Merupakan
kumpulan hasil karya siswa yang disusun secara sistematis yang menunjukkan
upaya, proses, hasil, dan kemajuan belajar yang dilakukan siswa dari waktu ke
waktu. Definisi portofolio pada dasarnya merupakan kumpulan hasil karya siswa
yang dapat menunjukkan pencapaian dan perkembangan hasil belajar siswa.
Portfolio is a purposeful collection of student work that tells the story of
student achievement or growth. Portfolios are not folders of all work at
student does.
·
Achievement Assessment
Merupakan
pengertian umum terhadap semua usaha untuk mengukur, mengetahui, dan
mendeskripsikan hasil belajar siswa, baik yang dilakukan dengan tes tertulis,
asesmen kinerja, portofolio, dan semua usaha untuk memperoleh informasi hasil
dan kemajuan belajar siswa.
·
Alternative Assessment (
Asesmen Alternatif )
Jadi
performance assessment, portfolio assessment, authentic assessment, dan
achievement assessment, merupakan kelompok dari asesmen alternatif.
4.
LANDASAN PSIKOLOGIS
Psikologi berasal dari dua kata dalam bahasa Yunani
yaitu psyche yang berarti jiwa dan logos yang berarti ilmu Secara harfiah
psikologi dapat diartikan sebagai ilmu tentang jiwa atau ilmu jiwa. Psikologi
atau ilmu jiwa yang mempelajari jiwa manusia, jiwa itu sendiri adalah roh dalam
keadaan mengendalikan jasmani yang dapat dipengaruhi oleh alam sekitar, karena
itu jiwa atau psikis dapat dikatakan inti dan kendali kehidupan manusia yang
berada dan melekat dalam manusia itu sendiri (Pidarta, 2007).
Pengertian landasan psikologis, merupakan pemahaman
terhadap peserta didik yang berkaitan dengan aspek kejiwaan. Karena merupakan
salah satu kunci keberhasilan pendidikan bagi seorang pendidik. Oleh karena
itu, hasil kajian dan penemuan psikologis sangat diperlukan penerapannya dalam
bidang pendidikan.
Dari pengertian diatas, dapat disimpulkan psikologi
adalah ilmu pengetahuan tentang proses mental dan perilaku seseorang yang
merupakan manifestasi atau penjelmaan dari jiwa itu.
Terkait
dengan asesmen alternatif, yang dapat menilai hasil belajar, juga memberikan
informasi secara lengkap tentang proses pembelajaran, dan menilai produk
belajar, serta menilai proses belajar untuk menghasilkan produk tersebut. Alternatif
asesmen dilaksanakan berdasarkan teori belajar khusus dari aliran psikologi
kognitif.
Beberapa
teori belajar yang digunakan sebagai landasan dalam pelaksanaan asesmen
alternatif adalah :
a). Teori
fleksibilitas kognitif (R.Spiro : 1990)
Teori ini beranggapan bahwa hakikat belajar adalah
kompleks dan tidak terstruktur. teori ini menjelaskan bahwa belajar akan
menghasilkan kemampuan secara spontan dalam melakukan restrukturisasi
pengetahuan yang telah dimiliki untuk merespons kenyataan atau situasi yang
dihadapi. Belajar tidak akan pernah berakhir, oleh karena itu diperlukan
penyesuaian-penyesuaian dalam situasi yang selalu berubah.
b). Teori
belajar bruner (1966)
Menurut bruner, belajar merupakan suatu proses aktif yang
dilakukan siswa dengan cara mengkonstruksi sendiri gagasan baru atau konsep
baru atas dasar konsep, pengetahuan, dan kemampuan yang telah dimiliki. Siswa
memilih dan mentransformasikan informasi yang diperolehnya, menyusun hipotesis,
dan membuat keputusan-keputusan atas dasar struktur kognitif yang dimiliki.
Menurut bruner pembelajaran harus diarahkan pada belajar penemuan (discovery
learning). Setelah guru mengajarkan berbagai konsep, informasi, dan ketrampilan
diharapkan anak dapat menerapkannya pada materi pembelajaran yang lebih luas.
Pembelajaran harus sesuai dengan minat anak. anak harus didorong untuk
melakukan eksplorasi dan belajar sendiri. Discovery learning dapat dilakukan
dengan cara : (a) anak dihadapkan pada suatu masalah, (b) anak akan
membandingkan realita dengan model mental yang telah dimiliki, (c)dengan
pengalamannya anak akan mencoba menyesuaikan atau mengorganisasikan kembali
struktur idenya untuk mencapai keseimbangan dengan cara melakukan analisis,
sintesis,dan evaluasi untuk menemukan informasi baru dan membuang informasi
yang tidak perlu.
c). Generative
learning model dan Osborne dan wittrock (1983)
Inti dari generative learning model adalah bahwa otak
tidak hanya pasif menerima informasi tetapi aktif membentuk dan
menginterpretasikan informasi serta menarik kesimpulan dari informasi-informasi
tersebut.
Otak akan menyeleksi informasi-informasi yang masuk dan
akan merekamnya.pusat memori dan informasi di otak akan berinteraksi dengan
pusat sensori untuk menyeleksi informasi-informasi yang diterima dari
lingkungan dan kemudian aktif memaknai. Berdasarkan generatif learning model,
dalam belajar siswa harus aktif memaknai apa yang sedang dipelajarinya. Untuk
memahami apa yang sedang dipelajari, siswa harus dapat membuat model atau
menjelaskan tentang apa yang sedang dipelajari kemudian mengorganisasikan
informasi yang sudah diseleksi berdasarkan pengalaman yang sesuai, logis, real,
atau keduanya.dengan cara tersebut ia akan dapat memunculkan informasi dari
ingatannya dan menggunakan strategi pengolahan informasi untuk membuat
generalisasi makna berdasarkan informasi yang masuk dan kemudian ditandai serta
disimpan dalam memorinya.
d). Experiental
learning theoty dari C. Rogers (1969)
Teori ini membedakan dua jenis belajar yaitu cognitive
learning yang berhubungan dengan pengetahuan dan experiential learning yang
berhubungan dengan pengalaman. Teori ini menarik karena melibatkan pribadi
siswa, inisiatif siswa, penilaian diri siswa, dan dampak langsung yang terjadi
pada diri siswa dalam proses belajar.dalam teori ini siswalah yang aktif dalam
belajar sedangkan guru hanya sebagai fasilitator. Menurut keeton dan Tate
(Suciati dkk, 2002) belajar melalui pengalaman mengacu pada "learning in
which the learners is directly in touch with the reality being studied.
e). Multiple
intellegent theory dari Howard gardner (1983)
Teori ini mulai diperkenalkan oleh Gardner pada tahun
1983. Menurut Gardner intelegensia didefinisikan sebagaisuatu kemampuan
seseorang yang digunakan untuk memecahkan masalah atau kemampuan untuk
menunjukkan suatu produk yang dihargai oleh satu atau lebih budaya.
Menurut Gardner ada 8 kemampuan pada setiap individu
yaitu :
Ø
Linguistic intellegence : merupakan kemampuan seseorang
dalam memahami bahasa. Anak yang tinggi kemampuan linguistik nya akan mempunyai
kemampuan penguasaan bahasa yang baik.
Ø
Logical-mathematic
intellegence : merupakan kemampuan seseorang dalam menggunakan
logika-matematika. seorang anak yang logika matematika nya tinggi ia akan
berkembang menjadi anak yang rasional dengan logika matematika kuat.
Ø
Spatial
intellegence : merupakan kemampuan seseorang dalam memahami konsep tata ruang.
apabila anak mempunyai kemampuan spatial yang tinggi maka pemahaman terhadap
tata ruangnya akan bagus. Ia dapat menjadi arsitek yang baik.
Ø
Musical
intellegence : merupakan kemampuan seseorang untuk memahami dan menghayati seni
musik. Seniman biasanya kemampuan musikalnya berkembang lebih baik dari
kemampuan yang lain.
Ø
Bodily-kinesthetic
intellegence : merupakan kemampuan seseorang dalam menggunakan bahasa tubuh
atau olah tubuh termasuk keterampilan motorik. Anak yang mempunyai kemampuan
ini akan mempunyai psikomotor yang baik. Anak-anak tipe ini akan berhasil jika
pembelajaran diberikan dalam bentuk kegiatan yang melibatkan secara langsung
anak dengan objek yang dipelajari.
Ø
Interpersonal
intellegence : merupakan kemampuan seseorang untuk memahami diri sendiri,
refleksi diri, dan mengembangkan bisnisnya melalui belajar mandiri. anak yang
kemampuan interpersonal nya tinggi akan berkembang menjadi pelajar mandiri yang
tangguh.
Ø
Intarpersonal
intellegence : merupakan kemampuan seseorang untuk bekerja sama dengan orang
lain. Anak tipe ini akan mempunyai kepekaan sosial yang tinggi.
Ø
Naturalist
intellegence : merupakan kemampuan seseorang untuk mengenali dan
mengklasifikasi sejumlah spesies yang ada di lingkungannya. Ia akan mampu
menunjukkan mana spesies yang bermanfaat dan mana yang berbahaya. anak yang
mempunyai kemampuan naturalis tinggi akan mampu mengenali gejala alam dengan
baik.
Definisi ini
berdasarkan dengan definisi intelegensi sebelumnya. Sebelum Gardner mengenalkan
teori ini, pengukuran intelegensi seseorang hanya dilakukan berdasarkan
kemampuan logical-mathematic dan verbal linguistic sedangkan
kemampuan-kemampuan yang lain ditinggalkan.
Teroi Gardner
memperlihatkan dengan jelas bahwa asesmen tidak boleh hanya mengukur sebagian
dari kemampuan yang dimiliki anak tetapi harus mampu mengukur keseluruhan
kemampuan yang ada pada anak.
5. KEUNGGULAN DAN KELEMAHAN
ASESMEN ALTERNATIF
Asesmen alternatif diartikan sebagai
pemanfaatan pendekatan non-tradisional untuk mengakses kinerja atau hasil
belajar peserta didik. Metode paper and pencil test hanya dapat mengukur
kemampuan kognitif peserta didik namun belum dapat mengukur hasil belajar
peserta didik secara holistic. Lantas seperti halnya alat ukur pembelajaran yang
lain, asesmen alternatif mempunyai keunggulan dan kelemahan.
5.1
Keunggulan Asesmen Alternatif
Berikut ini adalah keunggulan pada penggunaan asesmen alternatif, sebagai
berikut :
a.
Dapat menilai hasil belajar yang kompleks dan keterampilan keterampilan yang
tidak dapat dinilai dengan asesmen tradisional :
Asesmen alternatif menuntut siswa untuk
menunjukkan kinerja yang nyata yang meliputi proses dan hasil. Hal yang
demikian tidak dapat dilakukan oleh tes tertulis. Tes tertulis lebih menekankan
pada apa yang diketahui siswa dengan jawaban benar atau salah daripada apa yang
dapat dikerjakan siswa. Tes tertulis hanya dapat mengukur satu aspek saja yaitu
aspek kognitif, sedangkan asesmen alternatif menuntut berbagai kemampuan.
Contoh
: jika anda ingin mengukur kinerja siswa dalam membuat karangan maka banyak
aspek yang dapat diukur dari tugas membuat karangan tersebut. misalnya
kemampuan siswa dalam membuat paragraf yang baik, pemilihan kosakata yang
tepat, kemampuan siswa dalam menuangkan ide dalam bentuk tulisan, kemampuan
merangkai kata dan kalimat, dan kemampuan berimajinasi.
b.
Menyajikan hasil penilaian yang lebih hakiki, langsung, dan lengkap :
Dengan melakukan assessment anda akan dapat
menilai hasil belajar anak secara lengkap, tidak hanya hasil belajar dalam
ranah kognitif tetapi juga ranah afektif dan psikomotor. Dengan demikian semua
aspek yang telah dipelajari anak dapat terukur dengan baik.
c.
Meningkatkan motivasi siswa :
Anda harus menyampaikan dan mendiskusikan
dengan siswa mengenai perencanaan yang telah anda buat. Dengan adanya forum
tersebut, maka anak sudah mengetahui apa yang harus dikerjakannya dan
persyaratan apa yang harus mereka penuhi kalau mereka menginginkan nilai yang
baik. Dengan demikian maka motivasi anak akan tinggi.
d.
Mendorong pembelajaran dalam situasi yang nyata :
Asesmen alternatif menekankan kepada apa
yang dapat ditunjukkan atau dikerjakan oleh siswa bukan apa yang diketahui
siswa. unjuk kerja tersebut ditunjukkan dalam situasi nyata dalam kehidupan
sehari-hari misalnya unjuk kerja siswa dalam mencangkok pohon mangga.
e.
Memberi kesempatan kepada siswa untuk selfrevaluation :
Dengan menggunakan asesmen alternatif maka
siswa akan mampu melakukan evaluasi diri terhadap hasil karyanya. mereka akan
mampu melakukan penilaian terhadap hasil karyanya karena mereka sudah
mengetahui kriteria penilaian yang digunakan.
f.
Membantu guru untuk menilai efektivitas pembelajaran yang telah dilakukan
:
Guru
yang baik selalu ingin mengetahui keberhasilan pembelajaran yang telah
dilakukan. kegiatan tersebut dapat dilakukan dengan cara membandingkan
perencanaan pembelajaran yang telah dibuat sebelumnya dengan hasil belajar yang
dicapai siswa. Dengan asesmen alternatif, guru akan dapat melihat keberhasilan
pembelajaran dari unjuk kerja yang dilakukan siswa.
Dari portofolio siswa, guru dapat melihat
hasil belajar dan perkembangan belajar siswa dari waktu ke waktu melalui
kumpulan hasil karya siswa yang disimpan dalam folder.
g.
Meningkatkan daya transferabilitas hasil belajar :
Penilaian dalam arti asesmen menghendaki
hasil belajar yang diperoleh siswa sesuai dengan kenyataan dalam kehidupan
sehari-hari. dengan asesmen diharapkan anak dapat menggunakan hasil belajar
yang diperoleh di sekolah untuk membantu memecahkan permasalahan yang dihadapi
dalam kehidupan sehari-hari.
5.2 Kelemahan Asesmen
Alternatif
Berikut ini adalah kelemahan pada penggunaan asesmen
alternatif, sebagai berikut :
1.
Membutuhkan banyak waktu :
Jika anda melakukan asesmen maka pada tahap
awal Anda harus membuat perencanaan yang matang. Perencanaan tersebut perlu
didiskusikan dengan siswa. Kesepakatan antara guru dan siswa terhadap
perencanaan pembelajaran dapat dianggap sebagai kontrak pembelajaran yang harus
dilaksanakan bersama oleh guru dan siswa. Pada saat pembelajaran berjalan,
siswa mengerjakan tugas-tugas yang sudah ditetapkan dalam perencanaan. pada
saat yang sama guru harus aktif memonitor dan memberi umpan balik terhadap
tugas-tugas yang sedang dikerjakan oleh setiap siswa. Berdasarkan masukkan
guru, setiap siswa memperbaiki tugasnya sampai hasil karyanya baik.jika hal ini
dilakukan secara konsekuen maka guru akan memerlukan waktu yang sangat banyak.
2.
Adanya unsur subjektivitas dalam pemberian skor :
Pemberian
skor dalam asesmen alternatif (asesmen kinerja atau portofolio) dilakukan
dengan menggunakan pedoman penskoran (rubric). Cara penskorannya hampir sama
dengan cara penskoran tes uraian. Pada saat anda menggunakan rubric untuk
memberi skor pada hasil karya siswa atau pada saat.
Anda memberi skor ketika siswa sedang
melakukan unjuk kerja maka anda tidak akan dapat memberikan skor secara
objektif. Subjektivitas anda sebagai pemberi skor pasti ikut mewarnai hasil
penskoran. yang harus anda upayakan adalah bagaimana anda dapat meminimalkan
unsur subjektivitas tersebut.
3.
Ketetapan penskoran rendah :
Rendahnya
ketetapan tes koran ini disebabkan karena anda tidak dapat memberi skor yang
sama untuk hasil karya beberapa siswa yang mempunyai kualitas sama.
4.
Tidak tepat untuk kelas besar :
Pada
asesmen, frekuensi penilaian secara individu jauh lebih besar daripada
penilaian secara kelompok. Pada saat pelaksanaan pembelajaran dan saat asesmen
guru harus mengamati dan dan memberikan umpan balik satu per satu. dengan
demikian assessment tidak cocok jika siswa yang ada di kelas Anda jumlahnya
banyak, misalnya lebih dari 20 anak. Penilaian dengan asesmen tepat untuk kelas
kecil, paling banyak 15 siswa.
B.
BENTUK ASSESMEN KINERJA
Apabila
diperhatikan dari strukturnya maka benuk utama dari assessment kinerja terdiri
dai dua komponen utama. Pertama, tugas (task) yang harus diberikan dan
dikerjakan siswa dan kedua, kriteria penskoran (rubric) yang digunakan untuk
menilai kinerja siswa.
Sesuai
dengan Namanya yaitu asesmen kinerja, asesmen jenis ini meminta anak untuk
melakukan sesuatu atau menunjukkan kinerjanya sesuai dengan tugas yang
diberikan oleh guru. Informasi tentang keberhasilan siswa dalam unjuk kerja
dapat diperoleh dari berbagai jenis tugas.
1.
TUGAS : Tugas merupakan wujud
pertanggungjawaban individu ataupun organisasi. Tugas juga dapat diartikan
sebagai suatu pekerjaan dan tanggung jawab seseorang. Pekerjaan yang dibebankan,
sesuatu yang wajib dilakukan atau ditentukan untuk perintah agar melakukan
sesuatu dalam jabatan tertentu.
Berikut
ini berbagai jenis tugas, yaitu :
a) Tugas
Otentik (TASK)
Kegiatan
siswa yang terlibat dalam tugas-tugas dalam bentuk dimana mereka akan terlibat
langsung dalam kehidupan di luar kelas atau suatu kegiatan seperti para ilmuan
yang sesuai dengan data yang dikumpulkan. Tugas penilaian tersebut adalah
otentik. (NSES, 1996). Tugas yang diberikan kepada siswa yang dirancang untuk
menilai kemampuan mereka untuk menerapkan pengetahuan dan keterampilan
standar-didorong untuk tantangan dalam dunia nyata. Mueller (2006)
tugas meminta siswa untuk melakukan kinerja ketika:
·
Siswa diminta untuk membangun respon mereka sendiri daripada
memilih dari apa yang disajikan.
·
Tugas diberikan sebagai tantangan yang dihadapi di dunia
nyata.
Tugas
yang bisa diberikan kepada siswa memiliki unsur 1) konteks ; pengantar tugas
yang mendefinisikan pengaturan tugas atau yang memberikan komponen pemersatu
tugas antara sebuah tema atau pertanyaan. 2) komponen tugas; semua kegiatan dan
pertanyaan yang membentuk tugas penilaian, dibagi menjadi komponen yang
spesifik. Komponen tugas mengandung informasi yang dibuat oleh guru sebelum
diberikan kepada siswa (NGSS, 2014)
b) Karakteristik
Tugas
Penilaian otentik
merupakan pelengkap dari penilaian tradisional. Cara lain bahwa penilaian
otentik umumnya dibedakan dari penilaian tradisional adalah dalam hal atribut
yang digunakan.
Traditional ——————————————-
Authentic
Selecting a
Response ——————————Performing a Task
Contrived
————————————————-Real-life
Recall/Recognition
—————————-Construction/Application
Teacher-structured
——————————- Studenst structured
Indirect
Evidence —————————————-DirectEvidence
·
Memilih Respon – Melakukan Tugas: Pada penilaian tradisional, siswa
biasanya diberikan beberapa pilihan (misalnya, a, b, c atau d; benar atau
salah) dan diminta untuk memilih jawaban yang tepat. Sebaliknya, penilaian
otentik meminta siswa untuk menunjukkan pemahaman dengan melakukan tugas yang
lebih kompleks biasanya mewakili aplikasi yang lebih bermakna.
·
Dibuat-buat-Kehidupan Nyata: Tugas dibuat untuk penilaian dalam
waktu singkat. Sedangkan tugas penilaian otentik siswa diminta untuk
menunjukkan kemahiran dengan melakukan sesuatu yang terjadi dalam kehidupan
nyata.
·
Mengingat/ Mengenal – Membangun Pengetahuan /Penerapan : Penilaian tradisional
(yaitu, tes dan kuis) dapat secara efektif menentukan apakah siswa telah atau
tidak dalam memperoleh pengetahuan. Penilaian otentik meminta siswa untuk
menganalisis, mensintesis dan menerapkan apa yang telah mereka pelajari,
menciptakan makna baru dalam proses.
·
Berpusat pada guru- Berpusat
pada siswa:
Penilaian tradisional siswa hanya dapat menunjukkan yang telah dirancang khusus
oleh orang atau guru yang mengembangkan tes. Perhatian seorang siswa akan
dimengerti difokuskan pada apa yang telah disediakan guru dan terbatas
pada apa yang ada di tes. Sebaliknya, penilaian otentik memungkinkan lebih
banyak pilihan siswa dan mengkonstruksi dalam menentukan apa yang disajikan
sebagai bukti kemampuan mereka. Bahkan ketika siswa tidak dapat memilih topik
mereka sendiri atau format, biasanya ada beberapa rute yang dapat diterima ke
arah pembangunan sebuah produk atau kinerja.
·
Bukti tidak langsung -Bukti Langsung: Bukti tidak langsung dalam
penilaian tradisional meminta siswa untuk menganalisis atau menerapkan fakta
untuk situasi baru bukan berdasarkan bukti langsung. Situasi dunia nyata dalam penilaian
otentik, di sisi lain, menawarkan lebih banyak aplikasi bukti langsung dan
konstruksi pengetahuan siswa dapat secara efektif untuk mengkritik argumen
orang lain. Meminta siswa untuk menulis kritik harus memberikan bukti lebih
langsung dari keterampilan daripada meminta siswa memilih jawaban dari
serangkaian pilihan ganda untuk pertanyaan analitis.
c) Tipe
Tugas Otentik
Tugas
penilaian kinerja dapat diwijudkan dalam berbagai bentuk :
1. Computer adaptive testing (tidak berbentuk test
objektif) merupakan test berbantuan computer yang dapat digunakan untuk menilai
hasil belajar siswa sesuai dengan kemampuannya.
2. Tes pilihan ganda diperluas, adalah tes pilihan ganda dimana
dalam pengerjaannya siswa tidak hanya diminta untuk memilih salah satu jawaban
yang paling tepat tetapi mereka juga diminta untuk memberikan alasan mengapa
dia memilih jawaban itu.
3. Extended response atau Open ended question), tes ini dapat digunakan untuk
pemberian tugas dalam asesmen kinerja karena dalam tes uraian terbuka kita dapat
menilai kinerja atau kemampuan siswa dalam penalaran, logika, serta kemampuan
dalam menuangkan ide dalam bentuk tulisan.
4. Group performance assesment (tugas kelompok), tugas guru
adalah melakukan pengamatan terhadap kinerja kelompok tersebut seperti pembagian
kerja, tanggung jawab, dan kerja sama dalam menyelesaikan tugas tersebut.
5.
Individual
performance assesment (tugas individu), tugas guru adalah
menilai kinerja anak selama mengerjakan tugas dan menilai produk dari tugas
tersebut.
6. Interview berupa pertanyaan lisan, tugas
yang dapat dinerikan kepada siswa baik individua tau kelompok untuk melakukan
wawancara dengan orang lain dan kemudian membuat laporan hasil wawancara.
7. Proyek atau demosntrasi,
tugas yang diberikankepada siswa (individua tau kelompok) untuk
menyelesaikan tugas-tugas yang kompleks dalam jangka waktu tertentu.
8. Pengamatan, tugas individua tau kelompok
yang dinerikan kepada siswa untuk melakukan pengamatan terhadap sesuatu yang
ditugaskan oleh guru.
d) Langkah-Langkah
Penilaian Tugas Otentik
·
Mengidentifikasi standar standar merupakan pernyataan yang
harus diketahui dan dapat dilakukan oleh siswa
·
Memilih suatu tugas otentik dalam memilih tugas otentik
terlebih dahulu mengkaji standar yang digunakan dan mengkaji kenyataan (dunia)
yang sesungguhnya
·
Mengidentifikasi kriteria untuk tugas. Kriteria tidak lain
adalah indikator-indikator dari kinerja yang baik pada sebuah tugas.
Karakteristik kriteria yang baik adalah:
1. Pernyataan jelas
2. singkat;
3. Dapat Teramati/tampak
4. Menyatakan perilaku
Ditulis
dalam bahasa yang dimengerti oleh siswa
Selain
itu, pastikan setiap kriteria berbeda. Meskipun kriteria untuk satu tugas akan
dimengerti berhubungan satu sama lain, tidak boleh terlalu banyak tumpang
tindih. Jumlah kriteria untuk sebuah tugas adalah :
1. Batasi jumlah kriteria, hanya pada
unsur-unsur yang esensial dari suatu tugas ( 3-4. Dibawah 10)
2. Tidak perlu mengukur setiap detil
tugas
3.
Kriteria yang lebih sedikit untuk
tugas-tugas yang sederhana
Hubungan
dari beberapa bentuk-bentuk tugas penilaian untuk tujuan pendidikan sains yang
tidak jelas. Misalnya, kemampuan siswa untuk memperoleh dan mengevaluasi
informasi ilmiah mungkin diukur dengan menggunakan tes jawaban singkat. Sebuah
metode alternatif dan lebih otentik adalah meminta siswa untuk mencari
informasi dan mengembangkan beberapa rujukan atau referensi dan penilaian
tentang kualitas ilmiah informasi. Dalam penilaian tugas otentik harus
memperhatikan hal sebagai berikut :
a) Assesmen tugas harus sesuai
dengan tahapan perkembangan, harus diatur dalam konteks yang akrab dengan
siswa, tidak harus memerlukan keterampilan membaca atau kosakata harus bebas
dari bias bentuk pilihan penilaian harus konsisten dengan apa yang diinginkan
untuk mengukur dan menyimpulkan. Praktek penilaian harus adil.
b) Assesmen tugasharus ditinjau untuk
penggunaan stereotip, untuk asumsi yang mencerminkan perspektif atau pengalaman
dari kelompok tertentu
c) Assesmen skala besar harus
menggunakan teknik statistik untuk mengidentifikasi potensi bias di antara
sub-sub kelompok.
d) Assesmen tugas harus dimodifikasi
untuk mengakomodasi kebutuhan siswa dengan cacat fisik, kesulitan belajar, atau
terbatas kemampuan bahasa Inggris.
e) Assesmen tugas harus diatur dalam
berbagai konteks, akan menarik siswa dengan minat dan pengalaman yang berbeda,
dan tidak harus mengasumsikan perspektif atau pengalaman dari jenis kelamin
tertentu, ras, atau kelompok etnis.
2.
KRITERIA PENILAIAN (RUBRIK) : Kriteria
penskoran pada tes uraian berisi konsep-konsep atau kata kunci yang harus
dijawab siswa. Konsep atau kata kunci tersebut merupakan jawaban yang benar dan
harus ada pada jawaban siswa. Jika siswa tidak mencantumkan konsep atau kata
kunci pada jawabannya berarti mereka menjawab salah dan tidak memperoleh skor
untuk konsep tersebut. Inilah konsep dasar tes.
Asesmen kinerja tidak menggunkaan
kriteria penskoran yang berisi konsep atau kata kunci yang merupakan jawaban
benar atas pertanyaan tersebut tetapi penilaian asesmen kinerja dilakukan
dengan menggunakan kriteria untuk menilai mutu kinerja atau hasil kerja yang
ditujukkan siswa. Dengan demikian penilaian dalam asesmen kinerja bersifat
subjektif. Untuk mengurangi subjetivitas dalam penilaian kinerja
dikembangkanlah rubrik.
2.1 Definisi
Rubrik
Secara umum dikatakan
bahwa rubruk adalah pedoman pemberian skor (guidance score) yang digunakan
untuk menilai mutu kinerja atau hasil kinerja. Brookhart (2013) Sebuah
rubrik adalah seperangkat kriteria untuk karya siswa yang mencakup deskripsi
dari tingkat kualitas kinerja pada kriteria. Mueller (2006) Skala skor
digunakan untuk menilai kinerja siswa bersama satu set tugas-kriteria yang
spesifik.
Suatu rubrik secara
umum ialah patokan penskoran yang digunakan dalam asesmen subjektif. Suatu
rubrik mengharuskan adanya suatu aturan tentang penetapan kriteria pada sistem
asesmen yang harus diikuti pada evaluasi. Rubrik dapat berbentuk deskripsi
eksplisit tentang karaktersitik performans tertentu pada suatu rentangan skala.
Rubrik penskoran secara eksplisit menunjukkan kualitas performans yang
diharapkan menurut rentang skala, atau definisi tentang suatu titik skor
tertentu pada skala.
2.2 Tujuan Menggunakan Rubrik
Seperti alat evaluasi lainnya, rubrik berguna
untuk tujuan tertentu dan bukan untuk orang lain. Tujuan utama dari rubrik
adalah untuk menilai kinerja. Untuk beberapa performance, mengamati siswa dalam
proses melakukan sesuatu.
Tabel. 1 Tipe performance yang dapat
Dinilai dengan Rubrik
|
Type of Performance |
Examples |
|
Processes ·
keterampilan fisik ·
Penggunaan peralatan ·
Komunikasi Lisan ·
Kebiasaan kerja |
·
Memainkan alat musik ·
Melakukan roll ke depan ·
Mempersiapkan slide untuk mikroskop ·
Membuat pidato untuk kelas ·
Membaca dengan suara keras ·
Bebinang atau berbicara dalam bahasa asing ·
Bekerja secara independen |
|
Products ·
Benda(Produk)
Dibangun ·
esai tertulis, tesis,
laporan, makalah ·
produk akademik
lainnya yang menunjukkan pemahaman konsep |
·
Rak buku kayu ·
Lapron Handmade ·
lukisan cat air ·
Laporan Laboratorium ·
Istilah kertas pada
konvensi teater di hari Shakespeare ·
Analisis tertulis
dari efek dari Marshall Plan ·
Model atau
diagram dari struktur (atom, bunga, sistem planet, dll) ·
Peta konsep |
2.3 Terdapat
2 Jenis Rubrik
1. Rubrik Holistik, penskoran dilakukan
terhadap proses keseluruhan atau kesatuan produk tanpa menilai bagian komponen
secara terpisah.
2. Rubrik Analitik, penskoran mula-mula
dilakukan atas bagian-bagian individual produk atau penampilan secara terpisah,
kemudian dijumlahkan skor individual itu untuk memperoleh skor total.
Tabel. 2 Keuntungan dan Kerugian Berbagai Jenis Rubrik
|
Type of Rubric |
Definisi |
Keuntungan |
Kerugian |
|
Holistic
or Analytic: One or Several Judgments? |
|||
|
Analytic |
Setiap
kriteria (dimensi, sifat) dievaluasi secara terpisah. |
·
Memberikan informasi diagnostik untuk
guru. ·
Memberikan umpan balik formatif untuk
siswa. ·
Mudah untuk link ke instruksi dari
rubrik holistik. ·
Baik untuk penilaian formatif;
beradaptasi untuk penilaian sumatif; jika membutuhkan skor keseluruhan untuk
grading, Anda dapat menggabungkan skor. |
·
Lebih banyak waktu untuk membuat
skor dari rubrik holistik. ·
Membutuhkan waktu lebih lama untuk
mencapai reliabilitas antar penilai daripada dengan rubrik holistik. |
|
Holistic |
Semua
kriteria (dimensi, sifat) dievaluasi secara bersamaan. |
·
Scoring lebih cepat daripada dengan
rubrik analitik. ·
Membutuhkan sedikit waktu untuk
mencapai reliabilitas antar penilai. ·
Baik untuk penilaian sumatif |
·
skor keseluruhan tunggal tidak
mengkomunikasikan informasi tentang apa yang harus dilakukan untuk
meningkatkan. ·
|
|
Description
of Performance: General or Task-Specific? |
|||
|
General |
·
Deskripsi pekerjaan memberikan karakteristik yang berlaku untuk seluruh tugas
(misalnya, menulis, pemecahan masalah). |
·
Dapat berbagi dengan siswa, secara
eksplisit menghubungkan penilaian dan instruksi. ·
Menggunakan kembali rubrik yang sama
dengan beberapa tugas atau tugas. ·
Mendukung belajar dengan membantu siswa
melihat “baik pekerjaan” sebagai lebih besar dari satu tugas. ·
Mendukung evaluasi diri siswa. ·
Siswa dapat membantu membangun rubrik
umum. |
·
Reliabilitas rendah dari pada dengan
rubrik tugas spesifik. ·
Membutuhkan latihan untuk menerapkan
dengan baik. |
|
Task-Specific |
·
Deskripsi pekerjaan mengacu pada konten spesifik tugas tertentu (misalnya,
memberikan jawaban, menentukan kesimpulan). |
·
Guru dapat menggunakan skor untuk
mempermudah ·
Membutuhkan sedikit waktu untuk
mencapai reliabilitas antar penilai. |
·
Tidak dapat berbagi dengan siswa (akan
memberikan jawaban). ·
Perlu untuk menulis rubrik baru untuk
setiap tugas. ·
Untuk tugas-tugas terbuka, jawaban yang
baik tidak tercantum dalam rubrik dapat menjadikan evaluasi buruk. |
|
Source: From Assessment and Grading in Classrooms (p. 201),
by Susan M. Brookhart and Anthony J. Nitko, 2008, Upper Saddle River, NJ:
Pearson Education. Copyright 2008 by Pearson Education. Reprinted with
permission. |
|||
2.4 Keuntungan
Menggunakan Rubrik
1.
Bagi guru :
Memungkinkan evaluasi dan penilaian lebih objektif dan konsisten membantu
memfokuskan untuk memperjelas / nya kriteria nya dalam hal tertentu, memberikan
umpan balik yang berguna mengenai efektivitas, memberikan benchmark untuk
mengukur dan mendokumentasikan kemajuan.
2.
Bagi siswa : Membantu
siswa mendefinisikan “kualitas”, meningkatkan kesadaran siswa tentang kriteria
yang digunakan dalam menilai kinerja rekan, Membantu siswa menilai dan
merevisi karya mereka sendiri sebelum menyerahkan tugas-tugas mereka. Jelas
menunjukkan bagaimana pekerjaan siswa akan dievaluasi dan apa yang diharapkan
2.5 Langkah
Dalam Membuat Rubrik
Rubrik terdiri dari daftar kriteria
yang diwujudkan dengan dimensi-dimensi kinerja, aspek-aspek atau konsep-konsep
yang akan dinilai disertai dengan gradasi mutu untuk setiap kriteria tersebut,
mulai dari tingkat yang paling sempurna sampai dengan tingkat yang paling
buruk. Dimensi-dimensi kinerja inilah yang harus ditentukan mutunya atau diberi
peringkat (rating). Setiap dimensi harus didefinisikan dan agar lebih jelas
harus diberi contoh atau ilustrasi sehinggu guru lebih mudah dalam memberikan
peringkat.
Secara lebih rinci Chicago Public School (CPS)
menjelaskan beberapa langkah dalam mengembangkan rubrik yaitu:
1.
Guru Bersama teman
sejawat menetukan dimensi kinerja yang akan dinilai. Pedoman yang digunakan
adalah GBPP (Garis-Garis Pedoman Pengajaran).
2. Cocokkan
dimensi kinerja tersebut dengan kinerja siswa secara riil di lapangan untuk
melihat kesesuaiannya. Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui apakah ada suatu
dimensi yang mendapat penekanan berlebih dari dimensi yang lain dan untuk
mengidentifikasi adanya kemungkinan dimensi kinerja yang belum tercantum.
3. Revisilah
dimensi-dimensi kinerja tersebut sehingga menjadi lebih tepat.
4. Setalah
itu desinisikanlah setiap kinerja tersebut. Pendefinisian ini merupakan Langkah
yang kritis karena jika terjadi kesalahan dalam membuat definisi maka penilaian
terhadap kinerja tersebut menjadi tidak tepat.
5. Memntukan
skala dari dimensi kinerja yang akan dinilai. Setiap kategori skala harus
didefinisikan secara jelas dan diberi contoh kinerja yang ditujukkan pada
setiap kategori.
6. Sebelum
rubrik ini digukanan, lakukan penilaian terhadap rubrik tersebut.
7. Lakukan
uji coba untuk mengetahui apakah rubrik tersebut dapat digunakan atau tidak.
8. Jika
rubrik sudah dianggap baik, lakukan sosialisasi dengan melibatkan pihak yang
terkait. Langkah ini dimaksudkan agar semua pihak yang terkait sepakat dengan
asesmen ini.
2.6 Contoh
Rubrik Holistik Dan Analitik
Berikut ini diberikan contoh holistic
rubric yang dapat anda gunakan untuk menilai berbagai jenis kinerja siswa.
Setiap aspek yang akan dilihat kinerjanya kemudian ditentukan gradasi mutunya
mulai dari yang paling sempurna sampai dengan yang paling jelek. Dengan memperhatikan
aspek-aspek pengerjaan tugas tersebut maka holistic rubriknya dapat dibuat
sebagai berikut.
|
Dimensi Kinerja |
Skor |
Deskripsi |
|
4 3 2 1 |
Tugas
dikerjakan dengan sangat baik dan akurat Tugas
dikerjakan dengan baik tetapi kurang tepat Kualitas
pengerjaan tugas kurang baik dan kurang akurat
|
|
4 3 2 1 |
Mampu
memodifikasi prosedur dalam kondisi yang menantang Mampu
memodifikasi prosedur tetapi atas bantuan instruktur Mampu
memodifikasi prosedur setelah diberi contoh instruktur Tugas
hanya dikerjakan dengan prosedur baku |
|
4 3 2 1 |
Secara
keseluruhan produk tugas sangat bagus Secara
keseluruhan produk tugas bagus Secara
keseluruhan produk tugas sedang Secara
keseluruhan produk tugas tidak bagus |
Analitic
rubik tepat digunakan untuk menilai kinerja tertentu. Dimensi kinerja yang akan
dinilai disesuaikan dengan kinerja yang akan diukur. Mari kita lihat Kembali
tugas yang diberikan oleh Pak Mardi kepada muridnya. Tugas yang diberikan Pak
Mardi kepada murid-muridnya adalah sebagai berikut: buatlah suatu karangan
dengan topik pengalaman saat liburan semester. Panjang karangan kurang lebih
1.5 lembar folio, karangan harus memuat komponen-komponen seperti judul,
pembuka, isi, dan penutup. Dalam menulis, perhatikan kosakata, struktur
kalimat, dan Alinea, karena komponen-komponen tersebutlah yang akan dijadikan
dasar penilaian. Tugas tersebut harus dikumpulkan pada hari Sabtu tanggal 8
Desember 2007 sebelum pelajaran dimulai.
Bagaimana
membuat rubrik dari tugas tersebut? Sebenernya Pak Maryadi sudah menyampaikan
komponen-komponen yang harus diperhatikan oleh murid pada saat membuat karangan.
Langkah berikutnya adalah memberikan skor untuk menilai mutu dari setiap aspek
mulai dari yang paling baik sampai dengan yang paling jelek.
|
Aspek Kinerja |
Indikator |
Skor |
Deskripsi |
|
1. Struktur
karangan |
a. Judul b. Pem- Bukaan c. Isi d. Penutup
|
4 3 2 1 4 3 2 1 4 3 2 1 4 3 2 1 |
Judul berupa frase, penulisannya tepat, Judul
sesuai isi karangan, Judul bukan frase, penulisannya tepat, judul sesuai
isi karangan, Judul bukan frase, penulisannya kurang tepat, judul sesuai
isi karangan Judul bukan frase, Penulisannya tidak
tepat, Judul
tidak sesuai dengan isi karangan, Ada dan mengarah ke isi karangan Ada dan kurang menagrah ke isi karangan, Ada tetapi tidak mengarah ke isi karangan, Tidak ada pembukaan, Isi lengkap dan jelas Isi lengkap tetapi kurang jelas Isi kurang lengkap tetapi jelas Isi tidak lengkap dan tidak jelas Ada dan merupakan kesimpulan isi karangan Ada tapi kurang sesuai denga nisi karangan Ada tetapi tidak sesuai denga nisi karangan Tidak ada penutup |
|
2. Penggunaan bahasa |
a. Kosakata b. Struktur
Kalimat c. Alinea
d. Ejaan
|
4 3 2 1 4 3 2 1 4 3 2 1 4 3 2 1 |
Makna dan bentuk tepat
Makna kurang tepat, bentuk tepat Makna dan bentuk tidak tepat 90%-100% struktur kalimat benar 80%-89% struktur kalimat benar 60%-79% struktur kalimat benar
Ada satu pokok pikiran dan dikembangkan dengan jelas Ada satu pokok pikiran dan perkembangannya kurang jelas Ada lebih dari satu pokok pikiran dan dikembangkan
dengan jelas Ada lebih dari satu pokok pikiran dan
pengembangannya tidak jelas Penulisan ejaan benar 90%-100% Penulisan ejaan benar 80%-89% Penulisan ejaan benar 70%-79% Penulisan ejaan benar paling banyak 69% |
C.
ASESMEN PORTOFOLIO
Dalam
dunia pendidikan, portofolio dapat digunakan guru untuk melihat perkembangan
peserta didik dari waktu ke waktu berdasarkan kumpulan hasil karya sebagai
bukti dari suatu kegiatan pembelajaran. Portofolio juga dapat dipandang sebagai
suatu proses sosial pedagogis, yaitu sebagai collection of learning experience yang terdapat di dalam pikiran peserta didik,
baik yang berwujud pengetahuan (cognitive), keterampilan (psychomotor) maupun
sikap dan nilai (affective).
1.
Pengetian Portofolio
Istilah portofolio (portfolio)
pertama kali digunakan oleh kalangan potografer dan artis.Secara umum,
portofolio merupakan kumpulan dokumen berupa objek penilaian yang dipakai oleh
seseorang, kelompok, lembaga, organisasi atau perusahaan yang bertujuan untuk
mendokumentasikan dan menilai perkembangan suatu proses. Dalam dunia usaha,
portofolio banyak digunakan untuk menilai keefektifan suatu proses produksi
dari jenis produk tertentu. Dalam duniakesehatan, portofolio dapat dilihat dari
Kartu Menuju Sehat (KMS) yang digunakan untuk memantau perkembangan pertumbuhan
bayi dari 0 tahun sampai usia tertentu.
Artinya, portofolio bukan hanya
berupa benda nyata, melainkan mencakup “segala pengalaman batiniah” yang
terjadi pada diri peserta didik. Portofolio juga dapat digunakan oleh peserta
didik untuk mengumpulkan semua dokumen dari ilmu pengetahuan yang telah
dipelajari, baik di kelas, di halaman sekolah atau di luar sekolah. Dalam
bidang bahasa, portofolio dapat merupakan suatu adjective yang sering
disandingkan dengan konsep lain, seperti pembelajaran dan penilaian, karena itu
timbul istilah portfolio-based instruction dan portfolio-based assessment.
Menurut para ahli, portofolio
memiliki beberapa pengertian. Ada yang memandang sebagai sebagai benda/alat,
dan ada pula yang memandang sebagai metode/teknik/cara. Portofolio sebagai
suatu wujud benda fisik, atau kumpulan suatu hasil (bukti) dari suatu kegiatan,
atau bundelan, yakni kumpulan dokumentasi atau hasil pekerjaan peserta didik
yang disimpan dalam suatu bundel. Misalnya, bundelan hasil kerja peserta didik
mulai dari tes awal, tugas-tugas, catatan anekdot, piagam penghargaan,
keterangan melaksanakan tugas terstruktur, sampai pada tes akhir.
Portofolio
merupakan kumpulan karya terpilih dari peserta didik, baik perseorangan maupun
kelompok. Sedangkan penilaian portofolio berbeda dengan jenis penilaian yang
lain. Penilaian portofolio adalah suatu pendekatan atau model penilaian yang
bertujuan untuk mengukur kemampuan peserta didik dalam membangun dan merefleksi
suatu pekerjaan/tugas atau karya melalui pengumpulan (collection),
bahan- bahan
yang relevan dengan tujuan dan keinginan yang dibangun oleh peserta didik,
sehingga hasil pekerjaan tersebut dapat dinilai dan dikomentari oleh guru dalam
periode tertentu. Jadi, penilaian portofolio merupakan suatu pendekatan dalam
penilaian kinerja peserta didik atau digunakan untuk menilai kinerja. Salah
satu keunggulan penilaian portofolio adalah memberikan kesempatan kepada
peserta didik untuk lebih banyak terlibat, dan peserta didik sendiri dapat
dengan mudah mengontrol sejauh mana perkembangan kemampuan yang diperolehnya.
Jadi, peserta didik akan mampu melakukan penilaian diri (self-assessment).
Popham (1994) menjelaskan,”penilaian
portofolio merupakan penilaian secara berkesinambungan dengan metode
pengumpulan informasi atau data secara sistematik atas hasil pekerjaan peserta
didik dalam kurun waktu tertentu.” Dalam sistem penilaian portofolio, guru
membuat file atau data perkembangan untuk tiap-tiap peserta didik, berisi
kumpulan sistematis atas hasil prestasi belajar mereka selama mengikuti proses
pembelajaran. Selain dapat dipergunakan untuk memantau perkembangan peserta
didik dan mendiagnosis kesulitan belajar mereka, penilaian portofolio juga
sangat bermanfaat bagi guru untuk menilai kebutuhan (need), minat (interest),
kemampuan akademik (abilities), dan karakteristik peserta didik secara
perseorangan.
Jadi, portofolio merupakan kumpulan
pekerjaan peserta didik yang menunjukkan usaha, perkembangan dan kecakapan
mereka dalam satu bidang atau lebih.
Secara
etimologi, portofolio berasal dari dua kata, yaitu port (singkatan dari report)
yang bearti laporan dan folio yang bearti penuh atau lengkap, jadi portofolio
bearti laporan lengkap segala aktivitas seseorang yang dilakukan (Erman dalam
Afif, 2010). Sedangkan Paulson (dalam Sugiyarti, 2000) mengemukakan bahwa
portofolio merupakan kumpulan hasil kerja siswa yang bermakna yang menunjukkan
usaha–usaha, kemajuan dan pencapaian siswa pada satu bidang atau lebih. Dimana
kumpulan tersebut harus memuat partisipasi siswa dalam memilih bahan, kriteria
pemilihan, kriteria untuk menentukan nilai dan bukti–bukti dari refleksi diri
siswa. Hal ini terlihat dalam penelitian Jantimala (2007) terlihat bahwa; (1).
Pembelajaran dengan menggunakan portofolio dapat meningkatkan hasil belajar
dengan pencapaian rata-rata gain kelas eksperimen adalah 68%, (2).
Pada pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan
portofolio ditemui beberapa kendala dari siswa, guru dan orang tua siswa, namun
juga diperoleh bahwa (3). Pada pelaksanan penelitian ini yaitu pembelajaran
dengan menggunakan portofolio mendapat tanggapan positif dari siswa, guru dan
orang tua siswa. Jadi berdasarkan beberapa pendapat ahli dan beberapa hasil
penelitian tersebut dapat di indikasikan bahwa portofolio merupakan suatu
komponen yang dapat dijadikan alaternatif dalam penilaian karena merupakan
suatu koleksi hasil karya siswa yang menunjukkan usaha dan perkembangan kemajuan
belajar siswa dan memberikan informasi yang lengkap dan obyektif sehingga dapat
membuat siswa termotivasi untuk meningkatkan hasil belajarnya.
2. Tujuan
Portofolio
Pada hakikatnya tujuan penilaian
portofolio adalah untuk memberikan informasi kepada orang tua tentang
perkembangan peserta didik secara lengkap dengan dukungan data dan dokumen yang
akurat. Rapor merupakan bentuk laporan prestasi peserta didik dalam belajar
dalam kurun waktu tertentu. Portofolio merupakan lampiran dari rapor, dengan demikian
rapor tetap harus dibuat. Sebenarnya, tujuan portofolio ditentukan oleh apa
yang harus dikerjakan dan siapa yang akan menggunakan penilaian tersebut.
S.Surapranata dan M. Hatta (2004)
mengemukakan penilaian portofolio dapat digunakan untuk mencapai beberapa
tujuan, yaitu:
a. Menghargai perkembangan yang
dialami peserta didik,
b. Mendokumentasikan proses
pembelajaran yang berlangsung,
c. Memberi perhatian pada prestasi
kerja peserta didik yang terbaik,
d. Merefleksikan kesanggupan
mengambil resiko dan melakukan eksperimentasi,
e. Meningkatkan efektifitas proses
pengajaran,
f. Bertukar informasi dengan orang
tua/wali peserta didik dan guru lain,
g.
Membina dan mempercepat pertumbuhan konsep diri positif pada peserta didik
h. Meningkatkan kemampuan melakukan
refleksi diri,
i. Membantu peserta didik dalam
merumuskan tujuan.
Adapun tujuan pemanfaatan portofolio
saat ini sudah semakin luas, hal ini didasari oleh adanya prinsip kebermaknaan
dan humanisme, Menurut Sujiono (2010:8) pengukuran hasil belajar melalui
portofolio yang terkait dengan pengukuran hasil belajar melalui pengalaman
harus dapat memenuhi kompetensi dan standar tertentu, dimana kompetensi
menggambarkan sejumlah kemampuan yang harus dimiliki seseorang untuk
melaksanakan suatu tujuan, tetapi standar lebih ditekankan pada kualifikasi
seseorang dalam pekerjaan tersebut yang terkait dengan unjuk perbuatan, dengan
memperlihatkan suatu tingkat ketrampilan dan pemahaman peserta didik, mendukung
tujuan pembelajaran serta dapat merefleksikan perubahan oleh peserta didik,
guru dan orang tua.
a). Prinsip Asesmen Portofolio
Dalam asesmen portofolio, peserta
didik memiliki peran penting dalam perencanaan awal sampai pelaksanaannya, oleh
karena itu guru harus memiliki pemahaman dasar tentang portofolio sebelum
menerapkan. Agar asesmen portofolio yang akan diterapkan dapat berjalan
sebagaimana yang diharapkan maka guru dan peserta didik harus memahami prinsip
dasar portofolio, dimana menurut Suraprana dan Hatta (2004:77-80) ada beberapa
prinsip penilaian portofolio yang harus dilakukan agar tercapai pencapaian
hasil belajar yang optimum, yaitu: saling percaya, kerahasiaan bersama, milik
bersama, kepuasan dan kesesuaian, penciptaan budaya mengajar, refleksi bersama,
serta proses dan hasil
b). Karakteristik Asesmen Portofolio
Portofolio merupakan salah satu alat penilaian yang efisien dalam pembelajaran
dan adanya keterbukaan antara peserta didik dan guru, hal ini terlihat dari
proses awal pelaksanaan portofolio, dimana peserta didik dilibatkan secara
aktif dalam proses penentuan dan pemilihan evidence yang akan dikumpulkan.
Dengan adanya pengumpulan evidence
memudahkan guru untuk melihat perkembangan peserta didik dari waktu ke waktu,
dan juga dapat membangun komunikasi yang baik antara guru dan peserta didik
dengan mendiskusikan kelebihan dan kekurangan yang dimiliki, sehingga dapat
memotivasi peserta didik untuk menghasilkan karya yang lebih baik.
Menurut Barton dan Collin (1997 dalam
Surapranata dan Hatta:82-90) ada beberapa karakteristik esensial dalam
pengembangan portofolio, yaitu; 1 Multi Sumber, 2 Authentic, 3 Dinamis, 4
Eksplisit, 5 Integrasi, 6 Kepemilikan, 7 Beragam tujuan. Jadi, asesmen
portofolio yang merupakan kumpulan hasil karya siswa haruslah disusun
berdasarkan suatu standar tertentu dimana jenis tugas tersebut dikelompokkan
menjadi beberapa bagian. Oleh karena itu, menurut Barton dan Collins(1997 dalam
Surapranata dan Hatta 2004:25) ada 4 macam jenis evidence atau objek portofolio
yang harus dikumpulkan siswa, yaitu; hasil karya peserta didik yaitu hasil
kerja peserta didik yang dihasilkan dalam kelas, hasil kerja peserta didik.
3. Perencanaan Portofolio
Perencanaan yang diambil disini
adalah isi portofolio. Salah satu aspek yang dimaksudkan dengan isi adalah prosedur
asesmen. Ada dua jenis prosedur, yaitu:
1. Teknik formal,
Teknik formal mencakup tes-tes formal
yang terdapat di dalam setiap akhir satuan pembelajaran. Di dalam buku teks
yang tersedia, biasanya terdapat tes-tes yang dimaksud. Bila telah berpengalaman
dalam membuat tes standar, guru dapat membuat tes sendiri dalam bentuk tes
pencapaian, profesiensi, dan diagnosis. Semua tes tersebut akan menghasilkan
angka.
2. Teknik informal,
Teknik
informal biasanya bersifat subjektif. Dalam teknik informal ini, guru biasanya
memberikan peringkat bagi hasil pekerjaan pembelajar. Guru-guru mencatat
masalah-masalah yang dialami pembelajar dalam penyelesaian tugasnya dengan
berpedoman pada indikator pembelajaran pada setiap KD sesuai dengan kelas masing-masing.
Pada akhirnya, untuk mendapat
keseimbangan yang baik antara hasil penilaian formal dan hasil penilaian
informal, guru harus melakukan penilaian secara seimbang pula sehingga
frekuensi penilaian formal dan penilaian informal tidak terlalu berbeda.
Disamping itu, perlu juga memperhatikan keseimbangan antara kebutuhan tentang
pengumpulan informasi secara komprehensif dengan kebutuhan praktis. Untuk itu,
asesmen dilakukan dengan urutan tugas-tugas unit setiap minggu, tes setiap
unit, tes setiap semester, disamping pencatatan terhadap kegiatan-kegiatan yang
berlangsung di dalam kelas.
Merencanakan verifikasi
langkah-langkah asesmen, dimana yang perlu direncanakan adalah suatu sistem
untuk mengetahui reliabilitas hasil penilaian. Ada 4 metode yang biasa dipakai
yaitu: (1) reliabilitas pengulangan tes, (2) reliabilitas konsistensi antar
item, (3) reliabilitas belah dua, dan (4) reliabilitas penilai.
Disamping itu, untuk validasi, ada
lima macam teknik yang digunakan, yaitu : (1) validitas perwajahan, (2)
validitas kesatuan, (3) validitas prediksi, dan (4) validitas isi.
Dalam praktiknya, kegiatan asesmen
portofolio mencakup enam tahapan yang saling terkait, yaitu sebagai berikut:
·
Pertama, penetapan tujuan
dan fokus portofolio yang mencakup pembentukan panitia dan penentuan fokus
portofolio.
·
Kedua, perencanaan isi
portofolio yang terdiri dari pengaturan langkah – langkah asesmen, penentuan
isi portofolio, dan penentuan frekuensi asesmen.
·
Ketiga, perancangan
analisis portofolio yang di dalamnya terdapat penetapan standar dan kriteria
asesmen, penentuan langkah-langkah dalam mengintegrasikan informasi, dan
penjadwalan tugas staf dalam penganalisisan.
·
Keempat, mempersiapkan
pengajaran dan pembelajaran yang terdiri dari perencanaan pelaksanaan
pengajaran, dan perencanaan pemberian umpan balik bagi pembelajar dan orang tua
mereka.
·
Kelima,
perencanaan verifikasi langkah-langkah asesmen yang mencakup pembentukan sistem
pengecekan reliabilitas dan pembentukan sistem untuk memvalidasi keputusan yang
diambil.
·
Keenam, pelaksanaan model
asesmen.
4. Pelaksanaan
Portofolio
Tahapan selanjutnya dalam penerapan
asesmen portofolio dalam pembelajaran adalah tahap pelaksanaan atau
implementasinya dalam proses pembelajaran. Pada tahapan ini guru dapat
memulainya dengan mengkomunikasikan kepada siswa terkait akan digunakannya
asesmen portofolio, hal ini dapat dilakukan dengan mengumumkan tujuan dan fokus
pembelajaran, selanjutnya guru dapat membuat kesepakatan prosedur pelaksanaan
asesmen portofolio dengan siswa dimulai dari menentukan jenis tugas yang harus
dikumpulkan samapai dengan menentukan kriteria penilaian.
Menurut Wulan (2010) ada beberapa
tahapan yang dapat dilakukan guru dalam melaksanakan asesmen portofolio, yaitu;
(1) Guru dan siswa secara rutin mendiskusikan proses pembelajaran yang menuntun
siswa menghasilkan karyanya; (2) Guru mengumpulkan pekerjaan siswa untuk
diperiksa dan diberi komentar, siswa dapat memperbaiki tugasnya bila masih
memilki banyak kekurangan; (3) Tugas atau catatan tentang siswa diberi tanggal
dan dimasukkan ke dalam folder secara kronologis sesuai urutan waktunya; (4)
Guru memberikan umpan balik secara berkesinambungan terhadap siswa, sehingga
siswa dapat senantiasa memperbaiki kelemahannya. Guru dapat memeriksa kembali
pekerjaan siswa sesuai urutan waktu, melihat kemajuan belajarnya dan mengkaji
taraf pencapaian kompetensi belajar siswa. Selanjutnya guru dapat memberi
catatan tentang prestasi dan kemajuan belajar siswa, hasil catatan guru
dilampirkan pada portofolio siswa; (5) Kegiatan diskusi antara guru dan siswa
hendaknya diupayakan untuk memberikan penilaian, namun digunakan untuk
memunculkan kekuatan karya siswa; dan (6) Seleksi terhadap karya yang dilakukan
oleh siswa dengan bantuan guru. Dalam hal ini siswa dapat memilih seluruhnya,
sebagian atau hanya karya terbaik saja yang dimasukkan dalam portofolio mereka.
Seperti
yang diketahui dari penjelasan di atas bahwa pelaksanaan asesmen portofolio
diperlukan kejujuran peserta didik dalam melaporkan rekaman belajarnya dan
kejujuran guru dalam menilai kemampuan peserta didik sesuai dengan kriteria
yang telah disepakati. Guru harus mampu menunjukkan urgensi laporan yang jujur
dari peserta didik.
5. Pengumpulan
Bukti Portofolio
Pengumpulan bukti portofolio ini sama
saja dengan bahan-bahan penilaian portofolio. Pada prinsipnya, setiap tindakan
belajar peserta didik harus diberikan penghargaan. Tujuannya adalah untuk
memberikan penguatan dan semangat belajar. Penghargaan tersebut dapat berbentuk
tulisan atau lisan. Semua penghargaan tersebut dapat dijadikan bahan penilaian
portofolio. Bahan penilaian portofolio bisa juga diambil dari hasil pekerjaan peserta didik, seperti
Lembar Kerja Siswa, hasil rangkuman, gambar, klipping, hasil kerja kelompok, hasil
tes, buku catatan dan hal-hal yang menyangkut pribadi peserta didik. Disamping
itu, bahan penilaian portofolio dapat diperoleh dari alat-alat audio-visual,
video atau disket.
Secara keseluruhan, bahan-bahan
penilaian portofolio dapat dikelompokkan menjadi beberapa bagian, yaitu:
1.
Penghargaan yang diperoleh peserta didik, baik tertulis maupun lisan,
seperti sertifikat hasil lomba atau catatan guru tentang penghargaan lisan yang
pernah diberikan kepada peserta didik dalam kurun waktu tertentu.
2. Hasil
pekerjaan peserta didik, seperti Lembar Kerja Siswa (LKS), klipping, gambar,
hasil ulangan, hasil kerja kelompok, dan hasil rangkuman.
3.
Catatan/laporan dari orang tua peserta didik atau teman sekelas.
4. Catatan
pribadi peserta didik, seperti bukti kehadiran, hasil presentasi dari
tugas-tugas yang selesai dikerjakan, catatan-catatan kejadian khusus (anecdotal
records), dan daftar kehadiran.
5.
Bahan-bahan lain yang relevan, yaitu (a) bahan yang dapat memberikan
informasi tentang perkembangan yang dialami peserta didik, dan (b) bahan yang
dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan tentang
kurikulum dan pembelajaran.
6. Alat-alat audio visual, video atau
disket.
Setelah semua bahan penilaian portofolio
dikumpulkan, kemudian disusun dan disimpan dalam sebuah dokumen. Dalam rangka
penataan sebuah dokumen, guru hendaknya memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
·
Pertama, setiap dokumen
harus dibuat identitas peserta didik, seperti nama, nomor induk, kelas, dan
nama sekolah.
·
Kedua, untuk mempermudah
pengecekan isi dokumen, maka setiap dokumen harus dibuat daftar isi dokumen.
·
Ketiga, isi dokumen harus
dimasukkan ke dalam satu map atau folder dan disusun secara sistematis sesuai
dengan kompetensi yang telah ditetapkan.
·
Keempat, isi dokumen
hendaknya dikelompokkan sesuai dengan mata pelajaran dan setiap mata pelajaran diberikan warna
yang berbeda.
·
Kelima, setiap isi
dokumen harus ada catatan atau komentar dari guru dan orang tua.
·
Keenam, isi dokumen
hendaknya tidak ditentukan sepihak oleh guru, tetapi harus melibatkan peserta
didik melalui proses diskusi. Hal ini dimaksudkan agar peserta didik tidak
hanya dijadikan sebagai objek penilaian tetapi juga subjek penilaian.
Disamping
itu, guru hendaknya memperhatikan prinsip-prinsip dokumentasi portofolio,
antara lain kelengkapan dan ketepatan data, ketepatan waktu, tingkat
keterbacaan, praktis, sistematis dan relevan.
6. Tahap – Tahap Penilaian Portofolio
6.1 Tahap
Penilaian Portofolio
Berdasarkan
ringkasan dari pendapat Anthoni J. nitko dalam Aripin, Tahap-tahap penilaian
portofolio antara lain :
1) Menentukan tujuan dan fokus portofolio. Hal
ini dapat dilakukan dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut:
a) Mengapa portofolio itu akan dilakukan?
b) Tujuan
pembelajaran dan tujuan kompetensi dasar apa yang akan dicapai?
c) Alat penilaian yang bagaimana yang tepat
untuk menilai tujuan tersebut?
d) Apakah portofolio akan difokuskan pada hasil
pekerjaan yang baik?
e) Siapa yang akan dilibatkan dalam penilaian
portofolio tersebut?
2) Menentukan isi portofolio.
Setelah menentukan
tujuan, langkah selanjutnya adalah menentukan isi portofolio yang harus sesuai
dengan tujuan portofolio tersebut. Isi portofolio harus menunjukkan kemampuan
siswa sesuai dengan kompetesi yang diharapkan.
3) Mengembangkan kriteria penilaian.
Kriteria penilaian
harus dirumuskan dengan jelas, baik dalam penilaian proses maupun penilaian
hasil belajar. Hal ini dikarenakan untuk memudahkan pemberian skor pada setiap
perkembangan siswa.
4) Menyusun format penilaian. Contoh Format penilaian dalam mengisi portofolio yakni :
![]()
5) Mengidentifikasi
pengorganisasian portofolio, menggunakan portofolio dalam praktik.
6) Menilai
pelaksanaan portofolio dan menilai portofolio secara umum.
D. RANAH AFEKTIF
Menurut Popham
(1995), ranah afektif menentukan keberhasilan belajar seseorang. Orang yang
tidak memiliki minat pada pelajaran tertentu sulit untuk mencapai keberhasilan
belajar secara optimal. Seseorang yang berminat dalam suatu mata pelajaran
diharapkan akan mencapai hasil pembelajaran yang optimal. Oleh karena itu semua
pendidik harus mampu membangkitkan minat semua peserta didik untuk mencapai
kompetensi yang telah ditentukan. Selain itu ikatan emosional sering diperlukan
untuk membangun semangat kebersamaan, semangat persatuan, semangat
nasionalisme, rasa sosial, dan sebagainya. Untuk itu semua dalam merancang
program pembelajaran, satuan pendidikan harus memperhatikan ranah afektif.
![]()
Keberhasilan
pembelajaran pada ranah kognitif dan psikomotor dipengaruhi oleh kondisi
afektif peserta didik. Peserta didik yang memiliki minat belajar dan sikap
positif terhadap pelajaran akan merasa senang mempelajari mata pelajaran
tertentu, sehingga dapat mencapai hasil pembelajaran yang optimal. Walaupun
para pendidik sadar akan hal ini, namun belum banyak tindakan yang dilakukan
pendidik secara sistematik untuk meningkatkan minat peserta didik. Oleh karena
itu untuk mencapai hasil belajar yang optimal, dalam merancang program
pembelajaran dan kegiatan pembelajaran bagi peserta didik, pendidik harus
memperhatikan karakteristik afektif peserta didik.
1. Meliputi Konsep Dasar
Kemampuan
afektif merupakan bagian dari hasil belajar siswa yang sangat penting.
Keberhasilan pembelajaran pada ranah kognitif dan psikomotor sangat ditentukan
oleh kondisi afekif siswa. Siswa yang memiliki minat belajar dan sikap positif
terhadap pelajaran akan merasa senang mempelajari mata pelajaran tersebut
sehingga mereka akan dapat mencapai hasil pembelajaran yang optimal. Walaupun
para guru sadar akan hal ini tetapi belum banyak tindakan yang dilakukan guru
untuk meningkatkan minat dan mengembangkan sikap positif terhadap mata
pelajaran. Fakta yang ada sampai saat ini pembelajaran masih didominasi pada
pengembangan rahan kognitif.
2. Tingkatan Ranah Afektif
Menurut Krathwohl (1961) bila ditelusuri hampir semua tujuan kognitif
mempunyai komponen afektif. Dalam pembelajaran sains, misalnya, di dalamnya ada
komponen sikap ilmiah. Sikap ilmiah adalah komponen afektif. Tingkatan ranah
afektif menurut taksonomi Krathwohl ada lima, yaitu: receiving (attending), responding, valuing, organization, dan
characterization.
Penjelasan :
a.Penerimaan (Receiving)
Mengacu kepada
kemampuan memperhatikan dan memberikan respon terhadap sitimulasi yang tepat.
Penerimaan merupakan tingkat hasil belajar terendah dalam domain afektif. Dan
kemampuan untuk menunjukkan atensi dan penghargaan terhadap orang lain. Contoh:
mendengar pendapat orang lain, mengingat nama seseorang.
b. Responsive (Responding)
Satu tingkat di atas penerimaan. Dalam hal ini siswa
menjadi terlibat secara afektif, menjadi peserta dan tertarik. Kemampuan
berpartisipasi aktif dalam pembelajaran dan selalu termotivasi untuk segera
bereaksi dan mengambil tindakan atas suatu kejadian. Contoh: berpartisipasi
dalam diskusi kelas
c. Nilai yang dianut (Value)
Mengacu kepada nilai atau pentingnya kita menterikatkan
diri pada objek atau kejadian tertentu dengan reaksi-reaksi seperti menerima,
menolak atau tidak menghiraukan. Tujuan-tujuan tersebut dapat diklasifikasikan
menjadi “sikap dan opresiasi”. Serta Kemampuan menunjukkan nilai yang dianut
untuk membedakan mana yang baik dan kurang baik terhadap suatu kejadian/obyek,
dan nilai tersebut diekspresikan dalam perilaku. Contoh: Mengusulkan kegiatan Corporate
Social Responsibility sesuai dengan nilai yang berlaku dan komitmen
perusahaan.
d. Organisasi (Organization)
Mengacu kepada penyatuan nilai,
sikap-sikap yang berbeda yang membuat lebih konsisten dapat menimbulkan
konflik-konflik internal dan membentuk suatu sistem nilai internal, mencakup
tingkah laku yang tercermin dalam suatu filsafat hidup. Dan Kemampuan membentuk
system nilai dan budaya organisasi dengan mengharmonisasikan perbedaan nilai.
Contoh: Menyepakati dan mentaati etika profesi, mengakui perlunya keseimbangan
antara kebebasan dan tanggung jawab.
e. Karakterisasi (characterization)
Mengacu
kepada karakter dan daya hidup sesorang. Nilai-nilai sangat berkembang nilai
teratur sehingga tingkah laku menjadi lebih konsisten dan lebih mudah
diperkirakan. Tujuan dalam kategori ini ada hubungannya dengan keteraturan
pribadi, sosial dan emosi jiwa. Dan Kemampuan mengendalikan perilaku
berdasarkan nilai yang dianut dan memperbaiki hubungan intrapersonal,
interpersonal dan social. Contoh: Menunjukkan rasa percaya diri ketika bekerja
sendiri, kooperatif dalam aktivitas kelompok.
3. Karakteristik Ranah Afektif
Pemikiran atau perilaku harus memiliki dua kriteria untuk
diklasifikasikan sebagai ranah afektif (Andersen, 1981:4). Pertama, perilaku
melibatkan perasaan dan emosi seseorang. Kedua, perilaku harus tipikal perilaku
seseorang. Kriteria lain yang termasuk ranah afektif adalah intensitas, arah,
dan target. Intensitas menyatakan derajat atau kekuatan dari perasaan. Beberapa
perasaan lebih kuat dari yang lain, misalnya cinta lebih kuat dari senang atau
suka. Sebagian orang kemungkinan memiliki perasaan yang lebih kuat dibanding
yang lain. Arah perasaan berkaitan dengan orientasi positif atau negatif dari
perasaan yang menunjukkan apakah perasaan itu baik atau buruk. Misalnya senang
pada pelajaran dimaknai positif, sedang kecemasan dimaknai negatif. Bila
intensitas dan arah perasaan ditinjau bersama-sama, maka karakteristik afektif
berada dalam suatu skala yang kontinum. Target mengacu pada objek, aktivitas,
atau ide sebagai arah dari perasaan. Bila kecemasan merupakan karakteristik
afektif yang ditinjau, ada beberapa kemungkinan target. Peserta didik mungkin
bereaksi terhadap sekolah, matematika, situasi sosial, atau pembelajaran. Tiap
unsur ini bisa merupakan target dari kecemasan. Kadang-kadang target ini diketahui
oleh seseorang namun kadang-kadang tidak diketahui. Seringkali peserta didik
merasa cemas bila menghadapi tes di kelas. Peserta didik tersebut cenderung
sadar bahwa target kecemasannya adalah tes.
Ada 5 (lima) tipe
karakteristik afektif yang penting,
yaitu sikap, minat, konsep diri, nilai, dan moral.
1.Sikap : Sikap merupakan suatu
kencendrungan untuk bertindak secara suka atau tidak suka terhadap suatu objek.
Sikap dapat dibentuk melalui cara mengamati dan menirukan sesuatu yang positif,
kemudian melalui penguatan serta menerima informasi verbal. Perubahan sikap
dapat diamati dalam proses pembelajaran, tujuan yang ingin dicapai, keteguhan,
dan konsistensi terhadap sesuatu. Penilaian sikap adalah penilaian yang
dilakukan untuk mengetahui sikap peserta didik terhadap mata pelajaran, kondisi
pembelajaran, pendidik, dan sebagainya.
Menurut Fishbein dan Ajzen (1975) sikap adalah suatu predisposisi yang
dipelajari untuk merespon secara positif atau negatif terhadap suatu objek,
situasi, konsep, atau orang. Sikap peserta didik terhadap objek misalnya sikap
terhadap sekolah atau terhadap mata pelajaran. Sikap peserta didik ini penting
untuk ditingkatkan (Popham, 1999). Sikap peserta didik terhadap mata pelajaran,
misalnya bahasa Inggris, harus lebih positif setelah peserta didik mengikuti
pembelajaran bahasa Inggris dibanding sebelum mengikuti pembelajaran. Perubahan
ini merupakan salah satu indikator keberhasilan pendidik dalam melaksanakan
proses pembelajaran. Untuk itu pendidik harus membuat rencana pembelajaran
termasuk pengalaman belajar peserta didik yang membuat sikap peserta didik
terhadap mata pelajaran menjadi lebih positif.
2.Minat : Menurut Getzel (1966),
minat adalah suatu disposisi yang terorganisir melalui pengalaman yang
mendorong seseorang untuk memperoleh objek khusus, aktivitas, pemahaman, dan
keterampilan untuk tujuan perhatian atau pencapaian. Sedangkan menurut kamus
besar bahasa Indonesia (1990: 583), minat atau keinginan adalah kecenderungan
hati yang tinggi terhadap sesuatu. Hal penting pada minat adalah intensitasnya.
Secara umum minat termasuk karakteristik afektif yang memiliki intensitas
tinggi.
Penilaian
minat dapat digunakan untuk:
a.
mengetahui minat peserta didik
sehingga mudah untuk pengarahan dalam pembelajaran,
b. mengetahui
bakat dan minat peserta didik yang sebenarnya,
c.
pertimbangan penjurusan dan pelayanan
individual peserta didik,
d. menggambarkan
keadaan langsung di lapangan/kelas,
e.
mengelompokkan peserta didik yang
memiliki minat sama,
f.
acuan dalam
menilai kemampuan peserta didik secara keseluruhan dan memilih metode yang
tepat dalam penyampaian materi,
g. mengetahui
tingkat minat peserta didik terhadap pelajaran yang diberikan pendidik,
h. bahan
pertimbangan menentukan program sekolah,
i.
meningkatkan motivasi belajar peserta
didik.
3.Konsep Diri : Menurut Smith, konsep diri
adalah evaluasi yang dilakukan individu terhadap kemampuan dan kelemahan yang
dimiliki. Target, arah, dan intensitas konsep diri pada dasarnya seperti ranah
afektif yang lain. Target konsep diri biasanya orang tetapi bisa juga institusi
seperti sekolah. Arah konsep diri bisa positif atau negatif, dan intensitasnya
bisa dinyatakan dalam suatu daerah kontinum, yaitu mulai dari rendah sampai
tinggi.
Konsep diri ini penting untuk menentukan jenjang karir peserta didik,
yaitu dengan mengetahui kekuatan dan kelemahan diri sendiri, dapat dipilih
alternatif karir yang tepat bagi peserta didik. Selain itu informasi konsep
diri penting bagi sekolah untuk memberikan motivasi belajar peserta didik
dengan tepat.
Penilaian
konsep diri dapat dilakukan dengan penilaian diri. Kelebihan dari penilaian
diri adalah sebagai berikut.
a.
Pendidik mampu mengenal kelebihan dan
kekurangan peserta didik.
b. Peserta didik
mampu merefleksikan kompetensi yang sudah dicapai.
c.
Pernyataan yang dibuat sesuai dengan
keinginan penanya.
d. Memberikan
motivasi diri dalam hal penilaian kegiatan peserta didik.
e.
Peserta didik lebih aktif dan
berpartisipasi dalam proses pembelajaran.
f.
Dapat digunakan untuk acuan menyusun
bahan ajar dan mengetahui standar input peserta didik.
g. Peserta didik
dapat mengukur kemampuan untuk mengikuti pembelajaran.
h. Peserta didik
dapat mengetahui ketuntasan belajarnya.
i.
Melatih
kejujuran dan kemandirian peserta didik.
j.
Peserta didik mengetahui bagian yang
harus diperbaiki.
k. Peserta didik
memahami kemampuan dirinya.
l.
Pendidik memperoleh masukan objektif
tentang daya serap peserta didik.
m. Mempermudah
pendidik untuk melaksanakan remedial, hasilnya dapat untuk instropeksi
pembelajaran yang dilakukan.
n. Peserta didik
belajar terbuka dengan orang lain.
o. Peserta didik
mampu menilai dirinya.
p. Peserta didik
dapat mencari materi sendiri.
q. Peserta didik
dapat berkomunikasi dengan temannya.
4.Nilai : Nilai menurut Rokeach
(1968) merupakan suatu keyakinan tentang perbuatan, tindakan, atau perilaku
yang dianggap baik dan yang dianggap buruk. Selanjutnya dijelaskan bahwa sikap
mengacu pada suatu organisasi sejumlah keyakinan sekitar objek spesifik atau
situasi, sedangkan nilai mengacu pada keyakinan. Target nilai cenderung menjadi
ide, target nilai dapat juga berupa sesuatu seperti sikap dan perilaku. Arah
nilai dapat positif dan dapat negatif. Selanjutnya intensitas nilai dapat
dikatakan tinggi atau rendah tergantung pada situasi dan nilai yang diacu.
5.Moral : Piaget dan Kohlberg banyak
membahas tentang perkembangan moral anak. Namun Kohlberg mengabaikan masalah
hubungan antara judgement moral dan tindakan moral. Ia hanya mempelajari
prinsip moral seseorang melalui penafsiran respon verbal terhadap dilema
hipotetikal atau dugaan, bukan pada bagaimana sesungguhnya seseorang bertindak.
Moral berkaitan dengan perasaan salah atau benar terhadap kebahagiaan orang
lain atau perasaan terhadap tindakan yang dilakukan diri sendiri. Misalnya
menipu orang lain, membohongi orang lain, atau melukai orang lain baik fisik
maupun psikis. Moral juga sering dikaitkan dengan keyakinan agama seseorang,
yaitu keyakinan akan perbuatan yang berdosa dan berpahala. Jadi moral berkaitan
dengan prinsip, nilai, dan keyakinan seseorang. Ranah afektif lain yang penting
adalah:
a.
Kejujuran: peserta didik harus
belajar menghargai kejujuran dalam berinteraksi dengan orang lain.
b.
Integritas: peserta didik harus
mengikatkan diri pada kode nilai, misalnya moral dan artistik.
c.
Adil: peserta didik harus berpendapat
bahwa semua orang mendapat perlakuan yang sama dalam memperoleh pendidikan.
d.
Kebebasan: peserta didik harus yakin
bahwa negara yang demokratis memberi kebebasan yang bertanggung jawab secara
maksimal kepada semua orang.
4. Beberapa Cara Penilaian Ranah Afektif
seperti halnya dengan penilaian pada ranah kognitif atau
psikomotor, penilaian pada ranah afektif dapat dilakukan dengan berbagai cara.
Menurut Ericson (dalam Nasoetion & Suryanto, 2002), penilaian afektif dapat
dilakukan dengan cara :
1. pengamatan
langsung, yaitu dengan memperhatikan dan mencatat sikap dan tingkah laku siswa
terhadap sesuatu, benda, orang, gambar, atau kejadian. dari tingkah laku yang
muncul kemudian dicari atribut yang mendasari tingkah laku tersebut.
2. wawancara,
dilakukan dengan memberikan pertanyaan terbuka atau tertutup. Pertanyaan
tersebut digunakan sebagai pancingan.
3. Angket atau
kuesioner, merupakan suatu perangkat pertanyaan atau isian yang sudah
disediakan pilihan jawaban baik berupa pilihan pernyataan ataupun pilihan
bentuk angka.
4. teknik proyektil,
merupakan tugas atau pekerjaan atau objek yang belum pernah dikenal siswa. Para
siswa diminta untuk mendiskusikan hal tersebut menurut penafsirannya.
5. Pengukuran
terselubung,merupakan pengamatan tentang sikap dan tingkah laku seseorang di
mana yang diamati tidak tahu bahwa ia sedang diamati.
![]()
kelima cara tersebut mempunyai keunggulan dan kelemahan dalam
memperoleh data. jika jumlah responden yang akan diteliti banyak maka
penggunaan angket atau kuesioner dinilai paling efektif.
5. Skala Instrumen Penilaian Afektif
Skala yang sering digunakan dalam instrumen penelilaian
afektif adalah Skala Thurstone, Skala Likert, dan Skala Beda Semantik.
Contoh Skala Thurstone:
Minat terhadap pelajaran sejarah
|
No |
Pernyataan |
7 |
6 |
5 |
4 |
3 |
2 |
1 |
|
1. |
Saya senang belajar Sejarah |
|
|
|
|
|
|
|
|
2. |
Pelajaran sejarah bermanfaat |
|
|
|
|
|
|
|
|
3. |
Saya berusaha hadir tiap ada jam
pelajaran sejarah |
|
|
|
|
|
|
|
|
4. |
Saya berusaha memiliki buku
pelajaran Sejarah |
|
|
|
|
|
|
|
|
5. |
Pelajaran sejarah membosankan |
|
|
|
|
|
|
|
|
6. |
Dst. |
|
|
|
|
|
|
|
![]()
Contoh skala Likert: Sikap
terhadap pelajaran matematika
|
No |
Pernyataan |
SS |
S |
TS |
STS |
|
1. |
Pelajaran matematika bermanfaat |
|
|
|
|
|
2. |
Pelajaran matematika sulit |
|
|
|
|
|
3. |
Tidak semua harus belajar
matematika |
|
|
|
|
|
4. |
Pelajaran matematika harus dibuat
mudah |
|
|
|
|
|
5. |
Sekolah saya menyenangkan |
|
|
|
|
|
6. |
Dst. |
|
|
|
|
Keterangan:
SS: Sangatsetuju
S: Setuju
TS: Tidak setuju
STS: Sangat tidak setuju
Contoh skala beda Semantik : Pelajaran ekonomi
|
|
a |
b |
c |
d |
E |
f |
g |
h |
|
|
Menyenangkan |
|
|
|
|
|
|
|
|
Membosankan |
|
Sulit |
|
|
|
|
|
|
|
|
Mudah |
|
Bermanfaat |
|
|
|
|
|
|
|
|
Sia-sia |
|
Menantang |
|
|
|
|
|
|
|
|
Menjemukan |
|
Banyak |
|
|
|
|
|
|
|
|
Sedikit |
|
Dst. |
|
|
|
|
|
|
|
|
Dst |
6. Langkah Langkah Pengembangan Instrumen Afektif
sama seperti dengan cara pengembangan alat ukur pada umumnya,
pengembangan alat ukur efektif dimulai dengan :
1. Merumuskan tujuan pengukuran afektif
pengembangan alat ukur sikap bertujuan untuk mengetahui sikap
siswa terhadap suatu objek, misalnya sikap siswa terhadap kegiatan
ekstrakurikuler di sekolah, sikap siswa terhadap sesuatu dapat positif atau
negatif. hasil pengukuran sikap sangat bermanfaat untuk menentukan strategi
pembelajaran yang tepat untuk siswa.
Alat ukur minat
bertujuan untuk memperoleh informasi tentang minat siswa terhadap sesuatu.
hasil pengukuran minat akan bermanfaat bagi sekolah untuk mengidentifikasi dan
menyediakan sarana dan prasarana sekolah sesuai dengan minat siswa. sedangkan
bagi siswa akan bermanfaat untuk mempelajari sesuatu objek sesuai dengan
minatnya.
pengembangan alat ukur konsep diri bertujuan untuk mengetahui
kekuatan dan kelemahan diri siswa. Siswa menilai kekuatan dan kelemahan diri
sendiri titik informasi ini sangat penting untuk menentukan program apa yang
sebaiknya dipelajari siswa. Hasil pengukuran konsep diri sangat berguna untuk
menentukan jenjang karir siswa.
pengembangan alat ukur nilai bertujuan untuk mengungkap nilai
dan keyakinan siswa. Hasil pengukuran nilai berupa nilai dan keyakinan siswa
yang positif atau negatif. sekolah berkewajiban mengembangkan nilai dan
keyakinan siswa yang positif dan menghilangkan nilai dan keyakinan yang
negatif.
2. Mencari definisi konseptual dari afektif
yang akan diukur
setelah tujuan pengukuran ditetapkan maka langkah berikutnya
adalah merumuskan definisi konseptual dari afektif yang akan diukur.
3. Menentukan definisi operasional dari setiap
afektif yang akan diukur
penentuan definisi operasional dimaksudkan untuk menentukan cara
pengukuran definisi konseptual.
4. Menjabarkan definisi operasional menjadi
sejumlah indikator
indikator merupakan petunjuk terukurnya definisi operasional.
Dengan demikian indikator harus operasional dan dapat diukur. Ketepatan
pengukuran ranah afektif sangat ditentukan oleh kemampuan menyusun instrumen
(guru atau peneliti) dalam membuat atau merumuskan indikator.
5. Menggunakan
indikator sebagai acuan menulis pernyataan-pernyataan dalam instrumen.
Penulisan
instrumen atau alat ukur dapat dilakukan dengan menggunakan skala pengukuran.
Skala pengukuran yang paling banyak digunakan adalah skala Liekert. Skala
Liekert merupakan salah satu jenis skala pengukuran ranah afektif yang terdiri
dari sejumlah pernyataan yang diikuti dengan penilaian responden terhadap
setiap pernyataan dengan menggunakan 5 skala mulai dari yang paling sesuai
sampai dengan yang paling tidak sesuai.
Edward seperti dikutip oleh Nasoetion &
Suryanto (2002) memberikan kaidah-kaidah dalam merumuskan pernyataan pernyataan
dalam instrumen afektif sebagai berikut :
a. Hindari pernyataan yang mengarah pada
peristiwa yang lalu, misalnya : pada waktu saya SD saya selalu dapat menjawab
pertanyaan yang diajukan guru.
pernyataan mengenai peristiwa masa lampau menanyakan peristiwa
yang terjadi pada masa lampau padahal maksud pengukuran afektif adalah untuk
kondisi saat pengukuran.
b. Hindari pernyataan yang faktual, contoh :
Saya hanya menjawab pertanyaan yang mudah saja sedangkan pertanyaan yang sulit
saya ajukan. Hindari pernyataan yang dapat ditafsirkan
ganda, contoh : tidak ada gunanya membaca riwayat hidup atau biografi
seseorang. Pernyataan ini dapat ditanggapi berbeda oleh responden. Memberi
tanggapan terhadap kegiatan membaca riwayat hidup penjahat tentu berbeda dengan
tanggapan yang diberikan jika membaca riwayat hidup seorang ilmuwan terkenal.
d. Hindari pernyataan yang tidak berkaitan
dengan afektif yang akan diukur, contoh : yang termasuk dalam ilmu pengetahuan
adalah matematika, IPA, dan IPS. Pernyataan tersebut bukan merupakan pernyataan
afektif.
e. Hindari pernyataan yang menyangkut keperluan
semua orang atau pernyataan yang tidak terkait dengan siapapun, contoh :
gerhana bulan sangat menyenangkan. Pernyataan ini tidak berlaku untuk semua
orang.
f. Upayakan kalimat pernyataan tersebut
pendek, sederhana, jelas, dan langsung pada permasalahannya.
g. Setiap pernyataan hanya mengandung satu
pokok pikiran saja.
h. Hindari penggunaan kata asing atau lokal.
i. Hindari pernyataan
negatif seperti tidak, kecuali, tanpa dan sejenisnya.
BAB III
PENUTUP
Penilaian alternatif merupakan salah
satu bentuk penilaian dengan teknik non tes yang mendasarkan pada kemampuan
peserta didik menjadi salah satu bentuk reformasi pendidikan di bidang
penilaian atau evaluasi. Dengan penilaian alternatif ini diharapkan para
guru/pendidik pendidikan jasmani dalam memberikan penilaian tidak semata-mata
hanya mendasarkan satu jenis penilaian konvensional yang lebih berorientasi
pada ranah kognitif. Penilaian alternatif dalam pendidikan jasmani merupakan
salah satu bentuk penilaian yang perlu dikembangkan dan diaplikasikan sebagai
salah satu bentuk penilaian untuk mengetahui kemampuan peserta didik yang
sebenarnya dalam dimensi yang lain.
Persyaratan-persyaratan utama yang
harus dipertimbangkan jika seorang guru pendidikan jasmani ingin menyusun penilaian
alternative adalah: (a). apakah penilaian alternatif menyediakan informasi yang
akurat untuk pengambilan keputusan, (b). apakah hasil penilaian alternatif
memberikan kesimpulan yang akurat dan adil tentang penampilan peserta didik,
(c). apakah penggunaan hasil penilaian alternatif memberikan kontribusi pada
pengambilan keputusan yang baik. Penilaian alternatif dalam pendidikan jasmani
terdiri dari: (1). pengamatan secara sistematis (observation), (2). melakukan
wawancara (interview), (3). menyebarkan angket (questionnaire), (4).
memeriksa/meneliti dokumen-dokumen (documentary anaysis), (5). pertunjukan atau
pameran (exhibition), serta (6). penilaian terhadap kumpulan semua hasil karya
siswa (portofolio).
![]()
DAFTAR
PUSTAKA
·
Arifin
,Zaenal.2012.Evaluasi Pembelajaran Prinsip-Teknik-Prosedur.PT.Remaja
Rosdakarya: Bandung.
·
Muslich,Masnur.2011.Authentic
Assessment: Penilaian Berbasis Kelas dan Kompetensi.Refika Aditama: Bandung.
·
Mulyadi.2010.Evaluasi
Pendidikan: Pengembangan Model Evaluasi Pendidikan Agama di
Sekolah.Malang:UIN-MALIKI Press.
·
Sarah
Fazilla.Jurnal Penerapan Asesmen Portofolio dalam Penilaian Hasil Belajar Sains
SD.Universitas Pendidikan Indonesia
·
Ana
Ratna Wulan. Penilaian Kinerja dan Portofolio dalam Pembelajaran Biologi FMIPA
Universitas Pendidikan Indonesia.
·
https://docplayer.info/30241213-Asesmen-alternatif-dalam-pembelajaran-makalah.html
·
file:///C:/Users/user/Desktop/0807006_chapter1.pdf
·
http://normanohira.blogspot.com/2012/06/assessmen-alternatif.html
·
(http://www.stfrancis.edu/assessment/assessmentglosary.pdf.)
·
(http://www.smallschoolsprojrct.org./PDFS/Planningresoutces/autumn/found-lg.pdf.)
·
(http://www.tecweb.org/styles/imslsindl.pdf.)
·
https://seputarpengertian.blogspot.com/2014/08/seputar-pengertian-tugas.html
·
https://sanguilmu.com/bahas-tuntas-asesmen-kinerja-task-and-rubrik/